foto: bisnis
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2017 meleset dari target pemerintah yang ditetapkan dalam RAPBN-P 2017, yang sebesar 5,2%.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,07%. Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan angka pertumbuhan tersebut memang di bawah target pemerintah. "Namun, 5,07% merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 2014," ujarnya, Senin (5/2/2018).
Suhariyanto menegaskan semua pihak harus optimistis pertumbuhann ekonomi akan lebih bagus lagi. Berdasarkan kelompok pengeluaran, tuturnya, konsumsi rumah tangga masih menopang PDB dengan porsi sebesar 58,13%. Dengan demikian, BPS menilai sedikit saja pengaruh terhadap konsumsi rumah tangga maka dampaknya akan besar.
Selain konsumsi, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan ekspor menunjang PDB Indonesia dengan porsi masing-masing 32,16% dan 20,37%. Adapun, sumbangan investasi pada 2017 meningkat cukup tinggi yakni mencapai 1,98% dibandingkan tahun sebelumnya, yang sebesar 1,45%.
Berdasarkan lapangan usaha, BPS mencatat sumber pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu berasal dari industri pengolahan dengan porsi 0,91% dan sektor konstruksi dengan 0,67%. "Intinya, sumber pertumbuhan selama tiga tahun terakhir tidak bergerak. Sumber utamanya adalah industri pengolahan," terang Suhariyanto dilansir bisnis.com.
Dengan demikian, dia berharap upaya untuk mendorong pertumbuhan industri pengolahan akan berpengaruh sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi mengingat kontribusinya sangat besar terhadap PDB dan penciptaan lapangan kerja.(*)
Transaksi Lesu, IHSG Ditutup Negatif ke 6.452
Imbal Hasil Obligas AS Naik, Harga Emas Lesu di Rp975 per Gram
Harga Emas 24 Karat di Pegadaian Hari Ini, Senin (28/12)
Ekspor Minyak Sawit Indonesia di 2022 Tercatat Merosot
Harga Emas Antam Merosot Rp8.000 per Gram Jadi Rp942 Ribu
Indonesia Perlu Waspadai Kesenjangan Pendapatan