sumber foto lifestyle.bisnis.com Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban saat siaran langsung di Instagram mendapat pertanyaan mengenai efek samping atau KIPI vaksin Moderna. Begini bunyinya; Apakah ada kaitannya antara demam 2x24 jam dengan indikasi positif Covid-19?
Dilansir dari laman lifestyle.okezeone.com, dengan tenangnya Prof Beri, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa KIPI semacam itu tidak berkaitan dengan positif Covid-19. "Jadi, tidak benar setelah terima vaksin seseorang malah sakit Covid-19," katanya di Instagram Live, Selasa (24/8/2021).
Gejala demam yang berlangsung 2x24 jam tidak bisa didiagnosis positif Covid-19. Tentu, diagnosis keluar dengan pemeriksaan lengkap, salah satunya menjalani tes PCR.
Di momen itu juga Prof Beri menceritakan bagaimana reaksi tubuhnya usai menerima vaksin Moderna sebagai booster. Ya, sebagai dokter yang masih menangani pasien, Prof Beri sangat memerlukan booster vaksin, apalagi usianya yang tak lagi muda.
"Saya itu berusia 74 tahun, ada diabetes, darah tinggi, dan pernah operasi jantung (pasang ring), sudah terima dua dosis vaksin Sinovac dan sudah divaksin Moderna juga. Apakah saya gawat? Enggak tuh," paparnya.
"Gejala pasca-vaksinasi Moderna yang saya alami nyeri di tempat suntikan, tapi cepat hilang. Beberapa teman cerita hilang 3-4 hari. Meriang? Iya saya meriang tapi sebentar cuma sejam," lanjutnya.
Lalu, sambung Prof Beri, ada juga gejala panas. Ini pun tidak sampai parah. "Intinya, semua bisa kembali pulih," tegasnya. "Jadi, tidak benar sama sekali itu yang bilang kalau habis divaksin malah sakit Covid-19. Saya tegaskan sekali lagi, ya, vaksin tidak menyebabkan orang sakit Covid-19," kata Prof Beri. (GA)
Info Terbaru Pengembangan Vaksin Virus Corona COVID-19 di 5 Negara
Waspada Stroke atau Serangan Otak Mendadak pada Usia Muda
Vaksin Cacar Monyet, Siapa Saja yang Bakal Mendapatkannya?
Golongan Darah Apa yang Lebih Berisiko Terkena Penyakit Jantung?
BPOM Resmi Masukkan Ivermectin dalam Daftar Obat Terapi COVID-19
Alat Tes Corona dari Swiss Tiba di Indonesia, Bisa Periksa 10.000 Spesimen Per Hari