Jeblok Enam Bulan Beruntun, Emas Sudah Tak Laku?


Senin,03 Oktober 2022 - 09:17:27 WIB
Jeblok Enam Bulan Beruntun, Emas Sudah Tak Laku? sumber foto cnbcindonesia.com

Sinar emas memudar dengan cepat sejak awal akhir Maret 2022 atau dalam enam bulan terakhir. Sempat bertahan lama pada level US$ 1.900 per troy ons, sang logam mulia ambles karena tidak sanggup melawan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Sepanjang tahun ini, emas juga sangat volatile setiap kali bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Emas hanya mampu naik tipis-tipis begitu ada gejolak ketegangan dalam perang Rusia-Ukraina atau pada awal-awal isu resesi di AS muncul. Rata-rata harga emas ada di kisaran US$ 1.951,53 per troy ons pada Maret kemudian melandai menjadi US$ 1.936,99 pada April, US$ 1.848,08 pada Mei, US$ 1.836,76 pada Juni.

Dilansir dari laman cnbcindonesia.com. US$ 1.736,08 pada Agustus dan US$ 1.680,73 pada September. Harga emas melambung ke level psikologis US$ 1.900 per troy ons pada awal Maret 2022 setelah Rusia menyerang Ukraina pada akhir Februari. Pada 8 Maret, emas bahkan menyentuh US$ 2.052, 41 per troy ons yang merupakan level tertingginya sejak Agustus 2020 atau nyaris dalam dua tahun. Memasuki 25 April, emas mulai terpental dari level US$ 1.900. Kebijakan agresif bank The Fed yang mengubah gerak emas sejak kuartal II tahun ini. The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points pada Maret 2022. Namun, inflasi AS yang terus melaju di atas 8% pada April dan ekspektasi kenaikan inflasi membuat pasar memperkirakan The Fed akan agresif pada Mei.

Emas pun langsung goyang. Ekspektasi kebijakan agresif The Fed melambungkan dolar AS hingga ke level tertingginya selama 20 tahun dan yield surat utang pemerintah AS meningkat tajam. Kedua kondisi tersebut berdampak negatif ke emas karena penguatan dolar AS membuat emas semakin mahal sehingga kurang menarik. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield membuat emas ditinggalkan investor. "Kita benar-benar dihadapkan pada lingkungan inflasi tinggi yang membuat The Fed sangat agresif. Faktor ini menghilangkan appetite emas sebagai aset investasi yang aman. Investor melihat emas sudah tidak bisa dijadikan hedging dan aset aman yang memadai," tutur analis dari TD Securities Daniel Ghali, kepada Reuters. Sesuai prediksi, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada 5 Mei 2022. Emas terus melandai dari US$ 1.905, 56 per troy ons pada 26 April 2022 hingga menyentuh US$ 1.821 pada 10 Mei 2022 atau hanya lima hari sejak The Fed mengerek suku bunga sebesar 50 bps.(iv)


Akses riaubisnis.co Via Mobile m.riaubisnis.co
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Jl. Arifin Ahmad/Paus Ujung (Komp. Embun Pagi), B 13, Pekanbaru, Riau – Indonesia
CP : 0812 6812 3180 | 0853 7524 1980
Email: [email protected]