sumber photo inet.detik.com
Belanja online makin ngetren belakangan ini, ditunjang maraknya toko e-commerce. Tapi jika sudah dalam taraf kecanduan tentu tidak baik, bahkan bisa jadi merupakan gangguan mental.
Setidaknya itulah hasil studai dari Hannover Medical School di Jerman. Mereka menilai kecanduan belanja online yang disebut buying shopping dissorder (BSD) harus mendapatkan pengakuan dan klasifikasi tersendiri.
"Sungguh sekarang waktunya mengakui BSD sebagai kondisi kesehatan mental terpisah dan untuk mengakumulasi pengetahuan tentangnya," kata pemimpin studi ini, Dr Astrid Muller.
Dikutip dari laman inet.detik.com, menurutnya BSD ditandai dengan 'keasyikan' ekstrim dalam berbelanja dan juga keinginan untuk memiliki barang-barang tertentu. Lebih mencemaskan, orang dengan kondisi itu cenderung membeli lebih dari kemampuannya.
Dalam jangka panjang, dapat memicu stres, masalah keluarga, sampai penimbunan barang. Dalam studi ini, periset menganalisis data dari studi lain yang melaporkan ada 122 pasien mencari perawatan akibat BSD.
Mereka berharap penemuan ini akan memicu pakar kesehatan mental untuk memahami BSD lebih dalam. Terlebih saat ini adalah eranya belanja melalui internet.
"Kami harap hal ini akan memicu penelitian lagi di masa depan untuk mencari konsep perawatan yang spesifik," imbuh Dr Muller. (GA)
Peneliti Amati Respons Imun Manusia saat Terinfeksi Virus Corona
Virus Corona Bisa Bertahan Lama di Udara, Bisakah Orang Terinfeksi Ketika Menghirupnya
6 Penyebab Kolesterol Tinggi, Awas Biasa Dilakukan Sehari-hari
7 Obat Sakit Perut Alami Paling Ampuh yang Bisa Dicoba
Selain Turunkan Berat Badan, Ini Khasiat Lain Teh Hijau untuk Kesehatan
Berjemur pada Masa Pandemi COVID-19, Perhatikan Hal Ini Agar Tetap Aman