sumber foto techno.okezone.com Teknologi pengawetan konvensional dengan pengeringan, penggaraman, pembekuan dan pengasapan serta fumigas hingga kini masih dipakai. Demikian juga dengan penambahan pengawet sintetis. Meski memberi dampak negatif bagi kesehatan. Saat ini yang belum masif dikembangkan adalah penggunaan teknik nuklir untuk mengawetkan makanan yakni dengan metode yang disebut radiasi.
Dilansir dari laman techno.okezone.com, BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) dalam keterangan resminya menyebutkan, teknologi radiasi lebih unggul dibanding yang konvensional yakni hemat energi dan bahan, mudah dikontrol, dapat diproses dalam kemasan yang tidak tahan panas, tidak meninggalkan residu, dan ramah lingkungan. Sayang sebagian masyarakat masih beranggapan keliru tentang iradiasi pada bahan makanan ini.
Tim BATAN menyebutkan, iradiasi pada dasarnya merupakan proses fisika yang dapat digunakan untuk mengawetkan dan meningkatkan keamanan bahan pangan. Jenis radiasi yang digunakan merupakan radiasi yang berenergi tinggi atau disebut radiasi pengion. Ini karena metode ini menimbulkan ionisasi pada materi yang dilaluinya.
Energi yang dihasilkan oleh sumber radiasi dapat dimanfaatkan untuk menghambat pertunasan dan pematangan serta membasmi serangga (dosis rendah) juga membunuh mikroba patogen (dosis sedang). Dapat juga membunuh seluruh jenis bakteri yang ada (dosis tinggi). Dengan demikian mutu bahan pangan dapat tetap dipertahankan dalam kemasan yang baik selama masa penyimpanan. (GA)
Toyota Fokus Menuju 2050 Tanpa Emisi
Microsoft dan Meta Bermitra, Integrasikan Teams dengan Workplace Facebook
Presiden Luncurkan Program Literasi Digital Nasional Bersama Ribuan Peserta Daring
Meluncur di Indonesia, Audi A5 Sportback dan Coupe Terbaru Dibanderol Rp 1,2 Miliar
Berlibur ke Jepang & Timur Tengah, Kini Bisa Pesan Grab
Telkom Indonesia Perkuat Kolaborasi Genjot Pengembangan Startup Lokal