sumber foto cnbcindonesia.com Saham emiten produsen minyak sawit (crude palm oil/CPO) ambles ke zona merah pada perdagangan pagi ini, Selasa (12/10/2021), setelah cenderung naik pada pekan lalu.
Dilansir dari laman cnbcindonesia.com. Berikut pergerakan saham sawit, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.44 WIB.
Menurut data di atas, saham emiten milik pengusaha TP Rachmat TAPG menjadi yang paling ambles, yakni 5,81% ke Rp 730/saham. Dengan ini, saham TAPG sudah melemah selama 4 hari beruntun, setelah sempat melesat selama 4 hari berturut-turut. Dalam sepekan saham TAPG anjlok 7,01%, tetapi dalam sebulan melejit 20,49%.
Kedua, saham Grup Bakrie UNSP turun 2,40% ke Rp 122/saham, setelah naik selama 2 hari terakhir. Kendati demikian, dalam sepekan saham ini masih minus 0,82%. Sementara, dalam sebulan naik 3,42%.
Ketiga, saham emiten milik BUMN Malaysia Felda dan Grup Rajawali BWPT terkoreksi 2,04% ke Rp 96/saham. Dalam sepekan saham ini turun 2,04%, sedangkan dalam sebulan melonjak 29,73%.
Sepertinya investor sedang mencairkan keuntungan yang didapat dari kontrak CPO. Maklum, dalam sepekan terakhir harga masih membukukan kenaikan 3,25% secara point-to-point. Dalam sebulan ke belakang, harga CPO melesat 14,35%. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga meroket 31,36%.
Namun, sepertinya prospek harga CPO masih cerah. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga CPO bisa melesat ke atas MYR 5.000/ton karena titik resistance MYR 4.910/ton sudah tertembus. "Setelah menebus titik resistance MYR 4.910/ton, harga bisa naik ke kisaran MYR 5.196-5.276/ton," sebut Wang dalam risetnya.
Bahkan, lanjut Wang, ada proyeksi yang lebih optimistis. Saat titik resistance MYR 4.910/ton sudah tertembus, bukan tidak mungkin harga naik sampai ke MYR 5.341/ton.
Wang menilai saat ini harga CPO sedang mengarungi gelombang 5. Dalam kekuatan penuh, gelombang ini bisa membawa harga naik sampai ke rentang MYR 5.506-6.128/ton. Apabila harga benar-benar menyentuh 6.128/ton, maka ada lonjakan 24,12% dari posisi saat ini.
Kini, lanjut Wang, titik MYR 4.910/ton sudah menjadi titik support baru. Jika harga turun hingga menembus titik ini, maka ada peluang koreksi tipis ke MYR 4.824/ton. (RF/ika)
Pelatihan Tujuh Hari Hasilkan Tiga Film
Mengembalikan Kejayaan Industri Batam
PTPN V Dorong Energi Baru Terbarukan Guna Tekan Emisi Karbon
Hingga 2026, Pertamina Investasikan Rp 1.333 Triliun Bangun Infrastruktur Migas
Perusahaan Eksportir Sarang Walet ke Cina Bertambah
Beragam Sorotan DPR soal Kenaikan Cukai Rokok 12,5 Persen