sumber foto liputan6.com Harga minyak hari ini di pasar global turun hampir USD 2 per barel setelah putaran pernyataan lain dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengipasi kekhawatiran kenaikan suku bunga AS akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tercatat harga minyak mentah berjangka Brent menetap di posisi USD 110,05 per barel, jatuh USD 1,69, atau 1,5 persen.
Dilansir dari laman liputan6.com. Adapun harga minyak dunia hari ini di pasar berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menetap di posisi USD 104,27 per barel, turun USD 1,92, atau 1,8 persen. Powell mengatakan fokus The Fed untuk membatasi inflasi adalah "tanpa syarat" dan pasar tenaga kerja kuat secara tidak berkelanjutan. Ini menjadi komentar yang memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga lebih lanjut. Investor telah mengupas posisi dalam aset berisiko karena mereka menilai apakah bank sentral yang melawan inflasi dapat mendorong ekonomi dunia ke dalam resesi dengan suku bunga yang lebih tinggi.
"Jika AS, dan seluruh dunia mengalami resesi, Anda dapat memengaruhi permintaan secara signifikan," kata konsultan minyak Houston Andrew Lipow. Robert Yawger, Direktur Energi berjangka di Mizuho di New York, juga mengatakan jika harga bensin yang tinggi dapat mulai memperlambat permintaan. Perkiraan terbaru oleh American Petroleum Institute, menurut sumber pasar, menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin AS naik minggu lalu, yang juga membebani harga, kata Yawger.
Kondisi Produksi
Perkiraan mingguan resmi untuk persediaan minyak AS dijadwalkan akan dirilis pada hari Kamis tetapi masalah teknis akan menunda angka-angka itu hingga minggu depan. Ini mengutip Lembaga Administrasi Informasi Energi AS, tanpa memberikan garis waktu yang spesifik.
OPEC dan negara-negara produsen sekutu termasuk Rusia kemungkinan akan tetap pada rencana untuk mempercepat peningkatan produksi pada Agustus dengan harapan mengurangi harga minyak mentah dan inflasi karena Presiden AS Joe Biden berencana untuk mengunjungi Arab Saudi, kata sumber.
Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ sepakat pada pertemuan terakhirnya pada 2 Juni untuk meningkatkan produksi sebesar 648.000 barel per hari pada Juli, atau 7 persen dari permintaan global. Ini dengan jumlah yang sama pada Agustus, naik dari rencana awal untuk menambah 432.000 barel per hari per bulan. selama tiga bulan hingga September. (RF)
145 Orang Kena PHK Usai Produsen Minuman Alto Tutup Pabrik di Sukabumi
Masih Kuat Nanjak, IHSG Dibuka Positif ke 6.312
Dentsu Indonesia Ungkap 3 Pilar Penting Bagi Ekonomi Digital Indonesia
Cek Harga Emas 24 Karat Antam Hari Ini, Anjlok Rp12.000 Mulai Rp519.000
Lengkap, Ini Jadwal Cuti Bersama PNS di 2023
Cek di Sini Jadwal Pemblokiran Kartu ATM BCA, Mandiri, dan BTN