Harga minyak mentah dunia meroket sekitar 4 persen pada penutupan perdagangan pekan lalu. Dilansir dari Reuters, Senin (10/10), kenaikan harga minyak didorong oleh keputusan OPEC dan sekutunya (OPEC+) yang akan melakukan pemangkasan produksi. Pemangkasan ini disinyalir akan menjadi yang terbesar sejak 2020, dan dilakukan di tengah kekhawatiran resesi dan kenaikan suku bunga. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$4,19, atau 4,7 persen menjadi US$92,64 per barel. Sementara, minyak berjangka Brent naik US$3,50, atau 3,7 persen menjadi US$97,92 per barel.
Dilansur dari laman cnnindonesia.com. Kenaikan harga minyak saat ini juga menjadi yang tertinggi sejak akhir Agustus lalu. Selain itu, kedua kontrak membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut, dan persentase kenaikan mingguan terbesar sejak Maret. Tercatat, Brent naik sekitar 11 persen. Sementara, WTI lompat 17 persen lebih tinggi. Sebelumnya, OPEC+ akan memangkas produksi minyak sampai 2 juta barel per hari atau setara dengan 2 persen permintaan minyak global mulai November mendatang. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari CNN.com, OPEC+ menyatakan pemangkasan produksi dilakukan demi mengimbangi ketidakpastian ekonomi dan pasar minyak global.
Sebagai informasi, harga minyak global memang diwarnai ketidakpastian belakangan ini. Pada semester pertama tahun ini, harga minyak sempat melonjak ke level US$139 per barel. Lonjakan terjadi akibat perang antara Rusia dengan Ukraina. Namun setelah itu, harga minyak dunia langsung ambruk. Harga minyak Brent misalnya, turun 20 persen sejak akhir Juni. Penurunan dipicu kekhawatiran pasar atas kondisi ekonomi dunia yang akan diterpa resesi akibat lonjakan inflasi belakangan ini.(iv)
Naik Lagi, Harga Emas 24 Karat di Pegadaian Hari Ini, Jumat 12 November 2021
Rincian Harga Emas Hari Ini 13 Februari 2023 di Pegadaian
Dari Pandemi COVID-19 dan Harapan Industri Hulu Migas
Sekjen DPR Konfirmasi Naskah Final UU Cipta Kerja Jadi 812 Halaman
Sandiaga Sebut Tiket Masuk Candi Borobudur Naik Jadi Rp500.000, Ini Kata Pengelola
Ekonom Ramal Ekspor RI Melambat di 2023, Surplus Perdagangan Turun