sumber foto cnbcindonesia.com Dunia kini tengah dalam situasi kacau. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan kekacauan ini muncul sebab ada sederet persoalan yang datang sekaligus."Gejolak tantangan ekonomi global menimbulkan risiko perlambatan dunia, resesi dan stagflasi" ungkapnya dalam Seminar Nasional Badan Keahlian DPR RI, Rabu (19/10/2022) BI memperkirakan ekonomi dunia tumbuh 3% pada 2022 dan menurun jadi 2,6% pada tahun depan. Proyeksi ini lebih rendah dari sebelumnya, seiring dengan semakin lesunya perekonomian negara maju seperti Amerika serikat (AS), Eropa dan China.
Dilansir dari laman cnbcindonesia.com. Kondisi tersebut bermula dari pandemi covid-19 yang belum sepenuhnya berakhir. Diperparah oleh perang Rusia dan Ukraina sebagai biang kerok krisis pangan dan energi, menimbulkan lonjakan inflasi di mana-mana. Situasi semakin rumit, tatkala negara maju mengubah arah kebijakan moneter. Seperti Amerika Serikat (AS) yang dengan agresif menaikkan suku bunga acuan dan menimbulkan gejolak besar di pasar keuangan. Negara dengan kondisi fiskal yang rapuh, terpaksa jatuh ke jurang krisis keuangan.
"Lonjakan inflasi tidak hanya karena kenaikan permintaan, tidak bisa diatasi dengan suku bunga. Sering menimbulkan stagflasi, di mana inflasi tinggi namun pertumbuhan ekonomi melambat," ujarnya. Hal itu juga menjadi penyebab dolar AS kini begitu perkasa, menundukkan hampir seluruh mata uang di dunia. "Ini juga membuat rupiah dalam tekanan," pungkasnya.(iv)
Tarif Bea Meterai Sepakat Diganti Jadi Rp 10.000
Benarkan Kenaikan Tarif Cukai Tekan Jumlah Perokok? Ini Hasil Surveinya
Rupiah Menguat, Dolar AS Pagi Ini Rp 14.093
Harga Emas 24 Karat Antam Hari Ini, 4 Maret 2020
Harga Emas 24 Karat di Pegadaian Hari Ini, 8 April 2022, UBS dan Antam Naik
Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Penolakan AS terhadap Pemangkasan Produksi OPEC+