sumber foto cnnindonesia.com Singapura memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global dapat melambat hingga tahun depan, karena pelemahan pasar ekspor utama termasuk Amerika Serikat, Eropa dan China. Melansir AFP, Rabu (23/11) pasar ekspor Singapura melemah karena kenaikan suku bunga dan perang Rusia-Ukraina. Kementerian Perdagangan Singapura memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 3,5 persen pada tahun ini tetapi kemudian turun tajam pada 2023 menjadi hanya 0,5-2,5 persen. Ini terjadi karena permintaan global yang lebih lemah.
Dilansir dari laman Para pejabat memperingatkan bahwa ketidakpastian yang signifikan dan risiko penurunan ekonomi global tetap ada termasuk perang di Ukraina dan langkah bank sentral untuk melawan inflasi yang tinggi selama puluhan tahun dengan menaikkan suku bunga. "Prospek permintaan eksternal Singapura semakin melemah karena prospek yang lebih lemah untuk ekonomi zona euro di tengah krisis energi, serta China karena terus bergulat dengan wabah Covid-19 yang berulang dan penurunan pasar properti," kata Kementerian Perdagangan Singapura.
Kementerian menambahkan tingkat pertumbuhan di sebagian besar ekonomi utama diperkirakan akan moderat lebih jauh dari level 2022, dengan proyeksi perlambatan tajam di AS dan zona euro."Gangguan pasokan global kemungkinan akan berlanjut hingga 2023 karena perang di Ukraina berlarut-larut, meskipun tingkat dan frekuensi gangguan diperkirakan akan berkurang," ujar kementerian.
(iv)
PPG Bengkalis Datangi Kantor DPRD
BPJS Kesehatan Syarat Wajib Bagi Calon Jemaah Haji Plus
Seluk Beluk Jemaah Tabligh yang Diduga Percepat Wabah Corona di India dan RI
Data Bicara: Segini Jumlah Perusahaan Kehutanan Hingga 2022
Cegah Masuknya Varian Baru Covid-19, Pemerintah Perketat Pintu Masuk Laut dan Udara
Kemenag Berharap Arab Saudi Putuskan Nasib Haji 2020 Esok