sumber photo detik.com
Mahkamah Agung (MA) akhirnya membebaskan korban perkosaan yang dituntut penjara oleh jaksa. Korban yang masih anak-anak itu diperkosa kakaknya yang masih anak-anak juga, hingga hamil.
Kasus bermula saat si kakak memperkosa adiknya pada September 2017. Pemicunya, si kakak menonton film porno. Si kakak usianya 17 tahun, si adik usianya 15 tahun.
Akibat perkosaan itu, si adik hamil. Ia kemudian menggugurkan kehamilannya di usia janin 5 bulan. Kasus itu kemudian masuk ke ranah hukum. Ada tiga tersangka, yaitu:
1. Ibu, disangkakan turut serta menjadi pelaku aborsi.
2. Anak laki-laki jadi tersangka pemerkosaan adiknya.
3. Anak perempuan, jadi tersangka aborsi janin hasil perkosaan.
Oleh PN Muara Bulian, Jambi, si kakak dihukum 2 tahun penjara dan 3 bulan pelatihan kerja. Ia dinilai terbukti memperkosa adiknya hingga hamil. Putusan itu berkekuatan hukum tetap.
Bagaimana dengan si adik? Oleh PN Muara Bulian, di sdik dihukum 6 bulan penjara dengan pelatihan kerja 3 bulan karena terbukti aborsi. Atas hal itu, masyarakat protes dan mengajukan banding.
Pada Agustus 2018, Pengadilan Tinggi (PT) Jambi memutuskan di adik tidak layak hukum meski telah terbukti melakukan tindakan pidana aborsi. Sebab, yang dilakukannya itu dalam keadaan daya paksa. Maka, melepaskan anak dari segala tuntutan hukum.
Mendengar hal itu, jaksa tetap ngotot agar si adik korban perkosaan dipenjara. Berkas kasasi dilayangkan ke MA.
"Tolak kasasi jaksa penuntut umum pada Kejari," demikian lansir website MA, Kamis (4/7/2019), dikutip dari laman detik.com.
Perkara Nomor 533 K/PID.SUS/2019 itu diadili oleh hakim tunggal pada tingkat kasasi, hakim agung Sumardjiatmo. (wili)
Prabowo: Kalau Terpaksa Perang, Kita Laksanakan Perang Rakyat Semesta
ICW Kecam Kejagung Beri Bantuan Hukum Jaksa Pinangki
Fakta-Fakta Skema Upah per Jam dalam Omnibus Law
Mahfud Sebut DPR Sahkan RUU Omnibus Law Bidang Pajak Hari Ini
Kakek Syafrudin Divonis Bebas, Cici Rifmayanti: Keadilan Bisa Ditegakkan dengan Keyakinan Hakim
Kabinet Jokowi 88%: Calon Menteri Profesional 15 Orang, Politikus 14 Orang