sumber foto techno.okezone.com Teknologi pengawetan konvensional dengan pengeringan, penggaraman, pembekuan dan pengasapan serta fumigas hingga kini masih dipakai. Demikian juga dengan penambahan pengawet sintetis. Meski memberi dampak negatif bagi kesehatan. Saat ini yang belum masif dikembangkan adalah penggunaan teknik nuklir untuk mengawetkan makanan yakni dengan metode yang disebut radiasi.
Dilansir dari laman techno.okezone.com, BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) dalam keterangan resminya menyebutkan, teknologi radiasi lebih unggul dibanding yang konvensional yakni hemat energi dan bahan, mudah dikontrol, dapat diproses dalam kemasan yang tidak tahan panas, tidak meninggalkan residu, dan ramah lingkungan. Sayang sebagian masyarakat masih beranggapan keliru tentang iradiasi pada bahan makanan ini.
Tim BATAN menyebutkan, iradiasi pada dasarnya merupakan proses fisika yang dapat digunakan untuk mengawetkan dan meningkatkan keamanan bahan pangan. Jenis radiasi yang digunakan merupakan radiasi yang berenergi tinggi atau disebut radiasi pengion. Ini karena metode ini menimbulkan ionisasi pada materi yang dilaluinya.
Energi yang dihasilkan oleh sumber radiasi dapat dimanfaatkan untuk menghambat pertunasan dan pematangan serta membasmi serangga (dosis rendah) juga membunuh mikroba patogen (dosis sedang). Dapat juga membunuh seluruh jenis bakteri yang ada (dosis tinggi). Dengan demikian mutu bahan pangan dapat tetap dipertahankan dalam kemasan yang baik selama masa penyimpanan. (GA)
Wuling Pamer Mobil Listrik Buatan Cikarang, Berapa Harganya?
Apple Gelar Event pada 14 September 2021, Ungkap iPhone 13 Series?
Resmi Tersedia di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harga MacBook M1
Bangun Pabrik Mobil Listrik di Indonesia, PLN Siap Pasok Listrik Hijau
Suzuki Luncurkan ACross PHEV, Mirip Toyota RAV4
Industri Otomotif, APM Perlu Bekerja Keras Penuhi Target