Sumber foto liputan6.com Disrupsi digital tak dimungkiri menuntut kita untuk terus beradaptasi dan berinovasi agar bisa bertahan. Salah satu bentuk nyata dari digitalisasi bisa dilihat dari naiknya tren pengembangan aplikasi, terutama aplikasi mobile.
Dilansir dari laman liputan6.com, Baran Abdaha, Regional Business Development Manager dari perusahaan teknologi PT ACA Pacific Indonesia, menilai pada dasarnya aplikasi baik yang tersedia di website, perangkat komputer ataupun perangkat bergerak hanya salah satu bentuk pilihan engagement antar penyedia layanan dengan pengguna.
"Tetapi hari ini pendekatan via aplikasi sudah masuk ke prioritas utama tiap organisasi untuk tetap bisa relevan dalam persaingan bisnis," ujar Baran melalui keterangannya, Kamis (4/2/2021). Ia meyakini pengembangan aplikasi akan menjadi pondasi dari perputaran bisnis yang membangun ekonomi digital di Indonesia.
Namun, pada kenyataannya mengembangkan sebuah aplikasi bagi perusahaan tidaklah mudah. Sekitar 55 persen perusahaan di dunia membutuhkan waktu enam bulan sampai tiga tahun untuk mengembangkan aplikasi, mulai dari penyusunan ide hingga siap diluncurkan.
Tantangan Terbesar
Hal ini rentan menyebabkan proyek yang dituju tertunda, dan momentum bisnis yang dibidik pun terlewat. Ditambah, sumber daya manusia Indonesia di bidang pengembangan aplikasi jumlahnya masih minim.
Bahasa pemrograman atau coding yang cenderung rumit menjadi salah satu tantangan besarnya. Padahal kebutuhannya sangat tinggi, mengingat hampir semua industri kini bertumpu pada digital.
Solusi Teknologi Low-Code
Guna menjawab kebutuhan tersebut, Siemens Digital Industries Software menghadirkan Mendix, sebuah perangkat lunak dengan teknologi low-code yang dapat memudahkan pengembangan aplikasi mobile maupun aplikasi desktop dengan penggunaan coding yang minimal.
"Tentu saja dengan adopsi Mendix sebagai low code application platform, akan membantu untuk menekan barriers of entry ketika organisasi memutuskan membangun aplikasi, baik untuk kebutuhan internal maupun pendekatan ke pelanggannya," kata Baran. Teknologi low-code yang digunakan memungkinkan proses pengembangan sebuah aplikasi dari penyusunan konsep hingga diluncurkan menjadi lebih singkat.
Selain itu, dengan durasi pengembangan aplikasi yang lebih pendek, dari sisi budget juga akan lebih efisien bagi pelaku bisnis dan meminimalisir kemungkinan melewatkan momentum bisnis yang ingin diraih. (GA)
Produsen Mobil Ini PHK Ribuan Orang Gegara Kendaraan Listrik
Mengenal Sosok MO eScooter 125, Motor Listrik yang Menawan
Honda Luncurkan Mobil Anyar 21 September 2021, BR-V Terbaru?
Sambut Paskah, ASUS Zenfone Tawarkan Program Cashback
Local Purchase Toyota Avanza Diklaim Sudah 80 Persen Lebih, Siap Menyongsong Wacana PPnBM 0% Permane
Ilmuan Lomba Awetkan Otak Manusia yang Mati Bisa “Hidup” Kembali